Rabu, 04 Januari 2017

Tradisi Sedekah Bumi



SEDEKAH BUMI

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Islam Budaya Jawa
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, MSI
Oleh :
1.         Abdulah Haidar          (133211078)
2.         Dwi Fitriani Izqi         (1403026041)
3.         St. Umi Nafiatul M     (1403026043)
4.         Nafissatur Rahmah     (1403026046)
5.         Rada Najma                (1403106015)
6.         Siti Mubarokah           (1403096091)
7.         Lativatus Siri Aini       (1403096117)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2016
 
I.             LATAR BELAKANG
Indonesia adalah negara yang memiliki ragam suku bangsa dan kebudayaan yang masih hidup sampai saat ini, dimana dalam setiap bentuk masyarakat dapat di temukan sistem nilai-nilai budaya yang diketahui sangat efektif pengaruhnya. Salah satunya adalah masyarakat Jawa yang terkenal dengan beragam jenis tradisi budaya yang ada di dalamnya, baik tradisi kultural yang bersifat harian, bulanan hingga yang bersifat tahunan, semuanya ada dalam tradisi budaya Jawa tanpa terkecuali.
Beragam macam tradisi yang ada di masyarakat Jawa, hingga sangat sulit untuk mendeteksi serta menjelaskan secara rinci terkait dengan jumlah tradisi kebudayaan yang ada dalam masyarakat Jawa tersebut. Salah satu tradisi masyarakat Jawa yang hingga sekarang masih tetap eksis dilaksanakan dan sudah mendarah daging serta menjadi rutinitas masyarakat Jawa pada setiap tahunnya adalah “Sedekah Bumi”.
Ritual sedekah bumi merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat pulau Jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang orang Jawa terdahulu. Mungkin di daerah pesisir namanya bukan sedekah bumi tapi sedekah laut. Dalam makalah ini kami akan mencoba membahas lebih dalam mengenai apa pengertian sedekah bumi, bagaimana asal usul sedekah bumi, bagaimana tata cara pelaksanaan sedekah bumi dan apa manfaat sedekah bumi untuk warga desa.

II.          RUMUSAN MASALAH
A.          Apa pengertian sedekah bumi?
B.           Bagaimana asal usul sedekah bumi?
C.           Bagaimana prosesi pelaksanaan sedekah bumi?











III.       PEMBAHASAN
A.          Pengertian Sedekah Bumi
Menurut KBBI  sedekah bumi adalah selamatan yang diadakan sesudah panen (memotong padi) sebagai tanda bersyukur. Sedangkan menurut tokoh masyarakat  di desa sedekah bumi adalah acara untuk mengucapakan syukur melimpahnya hasil panen di desa dan untuk meminta perlindungan ke pada tuhan Yang Maha Esa dan juga meminta kesuburan tanah dan garapan para petani, selain itu juga ada yang mengatakan bahwa acara sedekah bumi diadakan untuk keselamatan bumi atau tanah karena semua yang ada didunia ini berpijak pada bumi atau tanah, sehingga warga dengan senang hati mengadakan ritual sedekah bumi karena telah memberikan kesuburan pada tanaman warga.
Menurut Franz Magnis Suseno dalam bukunya “Etika Jawa” mengatakan bahwa manusia itu harus mensyukuri nikmat apapun yang diberikan oleh Tuhan dengan cara melaksanakan ritual-ritual yang ada dalam setiap tradisi Jawa salah satunya yaitu sedekah bumi. Hal ini merupakan bentuk syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dituangkan melalui tradisi tersebut. Orang Jawa mempercayai bahwa hidup ini penuh dengan upacara, semula dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan manusia, tentu dengan upacara diharapkan agar hidup senantiasa dalam keadaan selamat. Namun, sebenarnya esensinya itu ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sedekah atau slametan diyakini sebagai sarana spiritual yang mampu mengatasi segala bentuk krisis yang melanda serta bisa mendatangkan berkah bagi manusia. Adapun objek yang dijadikan sarana pemujaan dalam slametan adalah ruh nenek moyang yang dianggap memiliki kekuatan magis. Di samping itu, slametan juga sebagai sarana mengagungkan, menghormati, dan memperingati roh leluhur, yaitu para nenek moyang.[1]

B.           Asal Usul Sedekah Bumi
Ritual sedekah bumi sebagai suatu perwujudan dari rasa syukur yang dikemas dalam bentuk selametan oleh masyarakat yang terjadi sekali dalam semusim atau setahun. Latar belakang Ritual ini dilihat oleh Geertz sebagai penjagaan individu dari roh-roh halus agar tidak mengganggu dirinya. Dalam pelaksanaannya tidak ada perlakuan yang berbeda antara satu individu dengan individu yang lainnya. Semua orang berkedudukan sama dengan orang lain dengan pendasaran emosionalitas yang merata diantara sesama pendatang dalam pelaksanaan selamatan tersebut.[2]
Pada masyarakat Jawa, tradisi yang berkaitan dengan peristiwa kelahiran, kematian dan perkawinan, serta berbagai peristiwa lainnya ternyata banyak ragamnya. Berbagai tradisi itu secara turun temurun dilestarikan oleh para pendukungnya dengan berbagai motivasi dan tujuan yang tidak lepas dari pandangan hidup masyarakat Jawa pada umumnya.
Menurut Mulder pandangan hidup masyarakat Jawa sangat menekankan pada ketenteraman batin, keselarasan, dan keseimbangan, serta sikap menerima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat serta masyarakat di bawah alam. Individu memiliki tanggung jawab berupa hak dan kewajiban terhadap masyarakat, dan masyarakat mempunyai kewajiban terhadap alam.[3]
Sedekah bumi atau bersih desa adalah suatu ritual budaya  peninggalan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu. Dahulu pada masa Hindu ritual tersebut dinamakan sesaji bumi / laut. Pada masa Islam, terutama masa Walisongo (500 tahun yang lalu) ritual budaya sesaji bumi tersebut tidak dihilangkan, justru dipakai sebagai sarana untuk melestarikan / mensyiarkan ajaran Allah yaitu ajaran tentang iman dan taqwa atau didalam bahasa jawa diistilahkan eling lan waspodo yang artinya tidak mempersekutukan Allah dan selalu tunduk dan patuh mengerjakan perintah dan menjauhi larangan AIIah. Untuk mensyiarkan dan melestarikan ajaran iman dan takwa, maka para Wali memakai ritual budaya sesaji bumi / laut yang dulunya untuk alam diubah namanya menjadi sedekah bumi yang diberikan kepada manusia khususnya anak yatim dan fakir miskin tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan.[4]
Kedatangan agama Islam ke Nusantara dibawa oleh para mubaligh yang dalam menyiarkan agamanya menggunakan metode persuasif secara drastis mengadakan perubahan terhadap kepercayaan dan adat istiadat lama, melainkan sampai batas-batas tertentu, memberikan toleransi, membiarkannya tetap berlangsung dengan mengadakan modifikasi-modifikasi seperlunya. Sebagai ungkapan rasa syukur dan pemujaan kepada dewa-dewa yang menguasai bumi (pertiwi), manusia mengadakan upacara-upacara (ritual) dengan membaca mantra-mantra dan mempersembahkan sesaji. Tujuannya agar para dewa memelihara keselamatan penduduk, menjauhkan dari malapetaka, dan melimpahkan kesejahteraan, berupa meningkatnya jumlah hasil pertanian di darat.[5]
Tradisi sedekah bumi merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau Jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang orang Jawa terdahulu. Ritual sedekah bumi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa yang berprofesi sebagai petani yang menggantungkan kehidupan keluarganya dari kekayaan alam yang ada di bumi.  Masyarakat Jawa khususnya para kaum petani, tradisi ritual tahunan semacam sedekah bumi bukan hanya merupakan sebagai rutinitas atau ritual yang sifatnya tahunan belaka.
Tradisi sedekah bumi mempunyai makna yang lebih dari itu, upacara tradisional sedekah bumi itu sudah menjadi salah satu bagian yang sudah menyatu dengan masyarakat yang tidak akan mampu untuk dipisahkan dari kultur (budaya) Jawa yang merupakan simbol penjagaan terhadap kelestarian serta kearifan lokal (Local Wisdom) khas bagi masyarakat agraris yang ada di pulau Jawa.

C.          Prosesi Pelaksanaan Sedekah Bumi
Secara umum dalam tradisi sedekah seluruh masyarakat sekitar membuat tumpeng, berkumpul, dan membawa tumpeng tersebut di balai desa atau tempat-tempat yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat setempat untuk menggelar acara ritual sedekah bumi tersebut. Diantara makanan yang menjadi makanan pokok yang harus ada dalam tradisi ritual sedekah bumi adalah nasi tumpeng dan ayam panggang, minuman, buah-buahan dan lauk-pauk. Kemudian masyarakat membawa tumpeng tersebut ke balai desa atau tempat-tempat untuk didoakan oleh tetua adat atau sesepuh yang sudah sering dan terbiasa memimpin jalannya ritual tersebut.
Usai  didoakan oleh sesepuh atau tetua adat, tumpeng tersebut kembali diserahkan kepada masyarakat setempat yang membuatnya sendiri kemudian dimakan secara ramai-ramai oleh masyarakat yang merayakan acara sedekah bumi itu. Masyarakat juga ada yang membawa pulang nasi tumpeng tersebut untuk dimakan beserta sanak keluarganya di rumah masing-masing, selain itu ada juga masyarakat di luar desa yang mengikuti upacara sedekah bumi.
Mengenai pelaksanaan sedekah bumi di Jawa, setiap daerah memiliki tata cara sendiri-sendiri, misalnya saja di Kabupaten Brebes yang merupakan salah satu daerah yang berada dijalur pantura dimana para penduduknya menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan pertanian, sebagian besar warga Brebes bekerja sebagai petani dan nelayan. Dengan adanya dua profesi tersebut maka sebagai bentuk ungkapan rasa sukur kepada Sang Pencipta, masyarakat Brebes yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian biasanya mengadakan sedekah bumi, sedangkan masyarakat yang berada diwilayah pantai mengadakan sedekah laut. Ritual tersebut biasanya diadakan setahun sekali dibulan Muharram ( Syura ).
Tradisi sedekah bumi yang ada di desa Dukuh Salam Kecamatan Losari Kabupaten Brebes biasanya dilakukan setiap satu tahun sekali biasanya setelah panen raya, namun seiring berjalannya waktu tradisi ini tidak menentu proses penyelenggaraannya tergantung kebijakan dari kepala desanya, jika kepala desa mengehendaki tradisi ini dilakukan pada awal tahun maka bisa saja tradisi ini dilakukan pada awal tahun.
Penyelenggaraan tradisi sedekah bumi di buka oleh kepala desa dilanjutkan dengan pengumpulan berkat yang di lakukan secara swadaya oleh masyarakat desa. Berkat atau masyarakat menyebutnya dengan bogana, berisi bahan makanan pokok seperti nasi, lauk pauk (telor, ikan asin, dan urab), jika memiliki uang lebih bisa ditambahkan dengan ayam panggang atau ikan bandeng. Kemudian semuanya disajikan dengan menggunakan ceting/bakul (sejenis wadah yang terbuat dari anyaman bambu). Bogana dikumpulkan di balai desa untuk selanjutnya di do’akan oleh sesepuh desa, kemudian setelah pembacaan do’a selesai bogana dibagikan ke warga desa. Pembagian ini dilakukan secara acak, tidak selalu yang membuat bogana mendapat ceting yang sama dengan yang dibuatnya. Tradisi seperti ini dapat menghadirkan rasa semangat untuk selalu menjunjung tinggi tali silaturahmi antar warganya, sehingga akan terhindar dari permusuhan antar warga.
Sedangkan masyarakat wilayah pesisir biasanya mengadakan ritual sedekah laut. Masyarakat di Desa Grinting Kecamatan Bulakamba contohnya, mereka menggelar acara sedekah laut dan balong (tambak). Warga membuat tumpeng dan sesaji yang berisi hasil bumi, sedekah laut bagi warga Grinting terutama yang bekerja sebagai nelayan merupakan tradisi yang secara turun temurun telah dilaksanakan setiap tahunnya, yaitu dengan melarung sesaji yang berisi hasil bumi dan kepala kerbau yang sebelumnya di doakan oleh sesepuh desa tersebut.
Sesaji diletakan didalam miniatur Perahu yang dibuat secara gotong royong oleh warga dan diarak dari kantor desa Grinting kecamatan Bulakamba menuju utara desa yang selanjutnya dibawa menggunakan perahu nelayan untuk dibawa ketengah laut, kemudian sesaji diletakkan ditengah laut dan dihanyutkan. Dalam perjalananya menuju laut, sesaji dikawal dengan puluhan perahu nelayan yang membawa masyarakat desa sekitar yang memang ingin menyaksikan acara pelarungan sesaji secara langsung. Setelah itu warga kembali dan bersama-sama makan tumpeng yang telah dibuat.
Di Jepara tepatnya di desa Singorojo kecamatan Mayong, sedekah bumi dilaksanakan setahun sekali pada bulan besar setelah hari raya idul adha. Masyarakat melaksanakannya dengan selametan (kenduri) pada siang hari dan pada malam harinya mengadakan pertunjukan wayang yang tidak jauh berbeda dengan desa Johorejo kecamatan Gemuh Kendal, hanya saja masyarakat Johorejo mengadakan pengajian pada malam hari dan diadakan setahun sekali di bulan Muharam (Sura).
Di kecamatan Parakan kabupaten Temanggung sedekah bumi disebut juga nyusur tanah yang dilakukan dengan selamatan ingkung ( daging ayam utuh ), kegiatan ini disebut juga ngrasul. Sedekah bumi dimulai dengan tahlilan yang merupakan persepsi mengirim doa untuk para arwah, syukuran atas nikmat hidup di dunia, untuk sedekah, dan menolak bala (marabahaya).
Kemudian di desa Tampingwinarno kecamatan Sukorejo kabupaten Kendal, masyarakat mengenalnya dengan istilah baritan atau nyaur tanah,dilaksanakan pada malam satu sura  dan pada rabu pungkasan (hari rabu terakhir di bulan Muharram). Pada zaman dahulu masyarakat memperingati baritan ini dengan cara selamatan membawa kupat-lepet di perempatan tengah kampong, namun setelah datang seorang ulama yang menjelaskan bahwa hal tersebut kurang baik menurut islam kemudian istilah baritan ini mulai kurang dikenal dan hanya dikenal dengan istilah slametan. Pelaksanaannyapun pindah tak lagi di perempatan desa dan menjadi serambi surau / masjid disertai doa dan mengaji bersama. Masyarakat juga mempercayai hal tersebut sebgai tolak bala, maka pada hari rabu pungkasan ini menurut para leluhur terdapat larangan-larangan seperti dilarang bepergian jauh dan diarang memanjat pohon.

IV.             PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Menurut KBBI  sedekah bumi adalah selamatan yang diadakan sesudah panen (memotong padi) sebagai tanda bersyukur. Sedangkan menurut tokoh masyarakat  di desa sedekah bumi adalah acara untuk mengucapakan syukur melimpahnya hasil panen di desa dan untuk meminta perlindungan ke pada tuhan Yang Maha Esa dan juga meminta kesuburan tanah dan garapan para petani, diadakan untuk keselamatan bumi atau tanah karena semua yang ada didunia ini berpijak pada bumi atau tanah.
Sedekah bumi atau bersih desa adalah suatu ritual budaya  peninggalan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu. Dahulu pada masa Hindu ritual tersebut dinamakan sesaji bumi / laut. Pada masa Islam, terutama masa Walisongo ritual budaya sesaji bumi tersebut tidak dihilangkan, justru dipakai sebagai sarana untuk mensyiarkan ajaran Allah. Ritual budaya sesaji bumi / laut yang dulunya untuk alam diubah namanya menjadi sedekah bumi yang diberikan kepada manusia khususnya anak yatim dan fakir miskin tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan.
Secara garis besar seluruh masyarakat sekitar membuat tumpeng, berkumpul, dan membawa tumpeng tersebut di balai desa atau tempat yang telah disepakati dan didoakan oleh sesepuh desa dan dimakan secara ramai-ramai oleh masyarakat yang merayakannya.
Mengenai pelaksanaan, setiap daerah memiliki nama dan waktu pelaksanaan sendiri, seperti di kabupaten Brebes ada dua nama yaitu sedekah bumi dan sedekah laut yang diadakan setahun sekali di bulan Muharram, di desa Singorojo kecamatan Mayong Jepara, sedekah bumi dilaksanakan setahun sekali pada bulan besar setelah hari raya idul adha. Masyarakat melaksanakannya dengan selametan ( kenduren ) pada siang hari dan pada malam harinya mengadakan pertunjukan wayang yang tidak jauh berbeda dengan desa Johorejo kecamatan Gemuh Kendal, hanya saja masyarakat Johorejo mengadakan pengajian pada malam hari dan diadakan setahunsekali di bulan Muharam (Sura).
Di kecamatan Parakan kabupaten Temanggung sedekah bumi disebut juga nyusur tanah yang dilakukan dengan selamatan ingkung ( daging ayam utuh ), kegiatan ini disebut juga ngrasul.  Kemudian di desa Tampingwinarno kecamatan Sukorejo Kendal, masyarakat mengenalnya dengan istilah baritan atau nyaur tanah,dilaksanakan pada malam satu sura  dan pada rabu pungkasan (hari rabu terakhir di bulan Muharram).

B.     Kritik dan Saran
Demikianlah makalah mengenai sedekah bumi yang dapat kami buat. Pemakalah menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendukung demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amiiiiin.


[1] Karkono Kamajaya, Kebudayaan Jawa: Perpaduan dengan Islam, (Yogyakarta: Ikatan Penerbit Indonesia, 1995), hlm  247.
[2] Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, ter., Aswab Mahasin, (Jakarta:  Pustaka Jaya, 1989), hlm 17.
[3] Niels Mulder, Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional, ( Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1981), hlm 65.
[4] Slamet DS, Upacara Tradisional Dalam Kaitan Peristiwa Kepercayaan, (Depdikbud, 1984), hlm 168.
[5] Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi I, (Jakarta: UI Press, 1982)

DAFTAR PUSTAKA

Geertz, Clifford. 1989.  Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, ter., Aswab Mahasin, Jakarta:  Pustaka Jaya.
Kamajaya, Karkono. 1995. Kebudayaan Jawa: Perpaduan dengan Islam. Yogyakarta: Ikatan Penerbit Indonesia.
Koentjaraningrat, 1982. Sejarah Teori Antropologi I, Jakarta: UI Press.
Mulder, Niels. 1981. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Slamet DS, 1984. Upacara Tradisional Dalam Kaitan Peristiwa Kepercayaan, Depdikbud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar