SEDEKAH BUMI
MAKALAH
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Islam Budaya Jawa
Dosen
Pengampu : M. Rikza
Chamami, MSI

Oleh
:
1.
Abdulah Haidar (133211078)
2.
Dwi
Fitriani Izqi (1403026041)
3.
St. Umi Nafiatul M (1403026043)
4.
Nafissatur Rahmah (1403026046)
5.
Rada Najma (1403106015)
6.
Siti Mubarokah (1403096091)
7.
Lativatus Siri Aini (1403096117)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016
I.
LATAR BELAKANG
Indonesia adalah negara yang
memiliki ragam suku bangsa dan kebudayaan yang masih hidup sampai saat ini,
dimana dalam setiap bentuk masyarakat dapat di temukan sistem nilai-nilai
budaya yang diketahui sangat efektif pengaruhnya. Salah satunya adalah
masyarakat Jawa yang terkenal dengan beragam jenis tradisi budaya yang ada di
dalamnya, baik tradisi kultural yang bersifat harian, bulanan hingga yang
bersifat tahunan, semuanya ada dalam tradisi budaya Jawa tanpa terkecuali.
Beragam macam tradisi yang ada di masyarakat
Jawa, hingga sangat sulit untuk mendeteksi serta menjelaskan secara rinci
terkait dengan jumlah tradisi kebudayaan yang ada dalam masyarakat Jawa
tersebut. Salah satu tradisi masyarakat Jawa yang hingga sekarang masih tetap eksis
dilaksanakan dan sudah mendarah daging serta menjadi rutinitas masyarakat Jawa
pada setiap tahunnya adalah “Sedekah Bumi”.
Ritual sedekah bumi merupakan
salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat pulau Jawa yang sudah
berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang orang Jawa terdahulu.
Mungkin di daerah pesisir namanya bukan sedekah bumi tapi sedekah laut. Dalam
makalah ini kami akan mencoba membahas lebih dalam mengenai apa pengertian
sedekah bumi, bagaimana asal usul sedekah bumi, bagaimana tata cara pelaksanaan
sedekah bumi dan apa manfaat sedekah bumi untuk warga desa.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa pengertian sedekah bumi?
B.
Bagaimana asal usul sedekah bumi?
C.
Bagaimana prosesi pelaksanaan sedekah bumi?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Sedekah Bumi
Menurut KBBI sedekah bumi adalah selamatan yang diadakan sesudah panen (memotong padi) sebagai tanda
bersyukur. Sedangkan menurut tokoh masyarakat di desa sedekah bumi adalah
acara untuk mengucapakan syukur melimpahnya hasil panen di desa dan untuk
meminta perlindungan ke pada tuhan Yang Maha Esa dan juga meminta kesuburan
tanah dan garapan para petani, selain itu juga ada yang mengatakan bahwa acara
sedekah bumi diadakan untuk keselamatan bumi atau tanah karena semua yang ada
didunia ini berpijak pada bumi atau tanah, sehingga warga dengan senang hati
mengadakan ritual sedekah bumi karena telah memberikan kesuburan pada tanaman warga.
Menurut Franz Magnis Suseno dalam
bukunya “Etika Jawa” mengatakan bahwa manusia itu harus mensyukuri nikmat
apapun yang diberikan oleh Tuhan dengan cara melaksanakan ritual-ritual yang
ada dalam setiap tradisi Jawa salah satunya yaitu sedekah bumi. Hal ini
merupakan bentuk syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dituangkan melalui
tradisi tersebut. Orang Jawa mempercayai bahwa hidup ini penuh dengan upacara,
semula dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan
gaib yang dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan
manusia, tentu dengan upacara diharapkan agar hidup senantiasa dalam keadaan
selamat. Namun, sebenarnya esensinya itu ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sedekah atau slametan diyakini sebagai sarana spiritual
yang mampu mengatasi segala bentuk krisis yang melanda serta bisa mendatangkan
berkah bagi manusia. Adapun objek yang dijadikan sarana pemujaan dalam slametan
adalah ruh nenek moyang yang dianggap memiliki kekuatan magis. Di samping itu,
slametan juga sebagai sarana mengagungkan, menghormati, dan memperingati roh
leluhur, yaitu para nenek moyang.[1]
B.
Asal Usul Sedekah Bumi
Ritual sedekah bumi sebagai suatu
perwujudan dari rasa syukur yang dikemas dalam bentuk selametan oleh masyarakat
yang terjadi sekali dalam semusim atau setahun. Latar belakang Ritual ini dilihat oleh Geertz
sebagai penjagaan individu dari roh-roh halus agar tidak mengganggu dirinya.
Dalam pelaksanaannya tidak ada perlakuan yang berbeda antara satu individu
dengan individu yang lainnya. Semua orang berkedudukan sama dengan orang lain
dengan pendasaran emosionalitas yang merata diantara sesama pendatang dalam
pelaksanaan selamatan tersebut.[2]
Pada masyarakat Jawa, tradisi yang berkaitan
dengan peristiwa kelahiran, kematian dan perkawinan, serta berbagai peristiwa
lainnya ternyata banyak ragamnya. Berbagai tradisi itu secara turun temurun
dilestarikan oleh para pendukungnya dengan berbagai motivasi dan tujuan yang
tidak lepas dari pandangan hidup masyarakat Jawa pada umumnya.
Menurut Mulder pandangan hidup masyarakat Jawa
sangat menekankan pada ketenteraman batin, keselarasan, dan keseimbangan, serta
sikap menerima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan
individu di bawah masyarakat serta masyarakat di bawah alam. Individu memiliki
tanggung jawab berupa hak dan kewajiban terhadap masyarakat, dan masyarakat
mempunyai kewajiban terhadap alam.[3]
Sedekah bumi atau bersih desa adalah suatu
ritual budaya peninggalan nenek moyang
sejak ratusan tahun lalu. Dahulu pada masa Hindu ritual tersebut dinamakan
sesaji bumi / laut. Pada masa Islam, terutama masa Walisongo (500 tahun yang
lalu) ritual budaya sesaji bumi tersebut tidak dihilangkan, justru dipakai
sebagai sarana untuk melestarikan / mensyiarkan ajaran Allah yaitu ajaran
tentang iman dan taqwa atau didalam bahasa jawa diistilahkan eling lan
waspodo yang artinya tidak mempersekutukan Allah dan selalu tunduk dan
patuh mengerjakan perintah dan menjauhi larangan AIIah. Untuk mensyiarkan dan
melestarikan ajaran iman dan takwa, maka para Wali memakai ritual budaya sesaji
bumi / laut yang dulunya untuk alam diubah namanya menjadi sedekah bumi yang
diberikan kepada manusia khususnya anak yatim dan fakir miskin tanpa membedakan
suku, agama, ras, atau golongan.[4]
Kedatangan agama Islam ke Nusantara dibawa oleh
para mubaligh yang dalam menyiarkan agamanya menggunakan metode persuasif secara
drastis mengadakan perubahan terhadap kepercayaan dan adat istiadat lama,
melainkan sampai batas-batas tertentu, memberikan toleransi, membiarkannya
tetap berlangsung dengan mengadakan modifikasi-modifikasi seperlunya. Sebagai
ungkapan rasa syukur dan pemujaan kepada dewa-dewa yang menguasai bumi
(pertiwi), manusia mengadakan upacara-upacara (ritual) dengan membaca
mantra-mantra dan mempersembahkan sesaji. Tujuannya agar para dewa memelihara
keselamatan penduduk, menjauhkan dari malapetaka, dan melimpahkan kesejahteraan,
berupa meningkatnya jumlah hasil pertanian di darat.[5]
Tradisi sedekah bumi merupakan salah satu bentuk
ritual tradisional masyarakat di pulau Jawa yang sudah berlangsung secara
turun-temurun dari nenek moyang orang Jawa terdahulu. Ritual sedekah bumi ini
biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa yang berprofesi sebagai petani yang
menggantungkan kehidupan keluarganya dari kekayaan alam yang ada di bumi. Masyarakat Jawa khususnya para kaum petani,
tradisi ritual tahunan semacam sedekah bumi bukan hanya merupakan sebagai
rutinitas atau ritual yang sifatnya tahunan belaka.
Tradisi sedekah bumi mempunyai makna yang lebih
dari itu, upacara tradisional sedekah bumi itu sudah menjadi salah satu bagian
yang sudah menyatu dengan masyarakat yang tidak akan mampu untuk dipisahkan
dari kultur (budaya) Jawa yang merupakan simbol penjagaan terhadap kelestarian
serta kearifan lokal (Local Wisdom) khas bagi masyarakat agraris yang ada di
pulau Jawa.
C.
Prosesi Pelaksanaan Sedekah Bumi
Secara umum dalam tradisi sedekah seluruh masyarakat sekitar membuat
tumpeng, berkumpul, dan membawa tumpeng tersebut di balai desa atau
tempat-tempat yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat setempat untuk
menggelar acara ritual sedekah bumi tersebut. Diantara makanan yang menjadi
makanan pokok yang harus ada dalam tradisi ritual sedekah bumi adalah nasi
tumpeng dan ayam panggang, minuman, buah-buahan dan lauk-pauk.
Kemudian masyarakat membawa tumpeng tersebut ke balai desa atau tempat-tempat untuk
didoakan oleh tetua adat atau sesepuh yang sudah sering dan terbiasa
memimpin jalannya ritual tersebut.
Usai didoakan oleh sesepuh atau
tetua adat, tumpeng tersebut kembali diserahkan kepada masyarakat setempat yang
membuatnya sendiri kemudian dimakan secara ramai-ramai oleh masyarakat yang
merayakan acara sedekah bumi itu. Masyarakat juga ada yang membawa pulang nasi
tumpeng tersebut untuk dimakan beserta sanak keluarganya di rumah
masing-masing, selain itu ada juga masyarakat di luar desa yang mengikuti
upacara sedekah bumi.
Mengenai pelaksanaan sedekah bumi di Jawa, setiap daerah memiliki tata cara
sendiri-sendiri, misalnya saja di Kabupaten Brebes yang merupakan salah satu daerah yang berada dijalur pantura dimana para
penduduknya menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan pertanian, sebagian besar warga Brebes
bekerja sebagai petani dan nelayan. Dengan adanya dua profesi tersebut maka sebagai bentuk ungkapan rasa sukur kepada Sang Pencipta, masyarakat Brebes yang menggantungkan
hidupnya dari hasil pertanian biasanya mengadakan sedekah bumi, sedangkan
masyarakat yang berada diwilayah pantai mengadakan sedekah laut. Ritual
tersebut biasanya diadakan setahun sekali dibulan Muharram ( Syura ).
Tradisi sedekah bumi yang ada di desa Dukuh
Salam Kecamatan Losari Kabupaten Brebes biasanya dilakukan setiap satu tahun
sekali biasanya setelah panen raya, namun seiring berjalannya waktu tradisi ini
tidak menentu proses penyelenggaraannya tergantung kebijakan dari kepala
desanya, jika kepala desa mengehendaki tradisi ini dilakukan pada awal tahun
maka bisa saja tradisi ini dilakukan pada awal tahun.
Penyelenggaraan tradisi sedekah bumi di buka oleh
kepala desa dilanjutkan dengan pengumpulan berkat yang di lakukan secara
swadaya oleh masyarakat desa. Berkat atau masyarakat menyebutnya dengan bogana,
berisi bahan makanan pokok seperti nasi, lauk pauk (telor, ikan asin, dan
urab), jika memiliki uang lebih bisa ditambahkan dengan ayam panggang atau ikan
bandeng. Kemudian semuanya disajikan dengan menggunakan ceting/bakul
(sejenis wadah yang terbuat dari anyaman bambu). Bogana dikumpulkan di balai
desa untuk selanjutnya di do’akan oleh sesepuh desa, kemudian setelah pembacaan
do’a selesai bogana dibagikan ke warga desa. Pembagian ini dilakukan secara
acak, tidak selalu yang membuat bogana mendapat ceting yang sama dengan
yang dibuatnya. Tradisi seperti ini dapat menghadirkan rasa semangat untuk
selalu menjunjung tinggi tali silaturahmi antar warganya, sehingga akan
terhindar dari permusuhan antar warga.
Sedangkan
masyarakat wilayah pesisir biasanya mengadakan ritual sedekah laut. Masyarakat di Desa Grinting Kecamatan Bulakamba contohnya, mereka menggelar acara sedekah laut dan balong (tambak). Warga membuat tumpeng dan sesaji yang berisi hasil bumi, sedekah
laut bagi warga Grinting terutama yang bekerja sebagai nelayan merupakan
tradisi yang secara turun temurun telah dilaksanakan setiap tahunnya, yaitu
dengan melarung sesaji yang berisi hasil bumi dan kepala kerbau yang sebelumnya
di doakan oleh sesepuh desa tersebut.
Sesaji
diletakan didalam miniatur Perahu yang dibuat secara gotong royong oleh warga
dan diarak dari kantor desa Grinting kecamatan Bulakamba menuju utara desa yang
selanjutnya dibawa menggunakan perahu nelayan untuk dibawa ketengah laut, kemudian
sesaji diletakkan ditengah laut dan dihanyutkan. Dalam
perjalananya menuju laut, sesaji dikawal dengan puluhan perahu
nelayan yang membawa masyarakat desa sekitar yang memang ingin menyaksikan
acara pelarungan sesaji secara langsung. Setelah itu warga kembali dan bersama-sama makan
tumpeng yang telah dibuat.
Di Jepara
tepatnya di desa Singorojo kecamatan Mayong, sedekah bumi dilaksanakan setahun
sekali pada bulan besar setelah hari raya idul adha. Masyarakat melaksanakannya
dengan selametan (kenduri) pada siang hari dan pada malam harinya mengadakan
pertunjukan wayang yang tidak jauh berbeda dengan desa Johorejo kecamatan Gemuh
Kendal, hanya saja masyarakat Johorejo mengadakan pengajian pada malam hari dan
diadakan setahun sekali di bulan Muharam (Sura).
Di kecamatan
Parakan kabupaten Temanggung sedekah bumi disebut juga nyusur tanah yang
dilakukan dengan selamatan ingkung ( daging ayam utuh ), kegiatan ini
disebut juga ngrasul. Sedekah bumi dimulai dengan tahlilan yang merupakan
persepsi mengirim doa untuk para arwah, syukuran atas nikmat hidup di dunia,
untuk sedekah, dan menolak bala (marabahaya).
Kemudian di
desa Tampingwinarno kecamatan Sukorejo kabupaten Kendal, masyarakat mengenalnya
dengan istilah baritan atau nyaur tanah,dilaksanakan pada malam satu sura dan pada rabu pungkasan (hari rabu terakhir
di bulan Muharram). Pada zaman dahulu masyarakat memperingati baritan ini
dengan cara selamatan membawa kupat-lepet di perempatan tengah kampong, namun
setelah datang seorang ulama yang menjelaskan bahwa hal tersebut kurang baik
menurut islam kemudian istilah baritan ini mulai kurang dikenal dan hanya
dikenal dengan istilah slametan. Pelaksanaannyapun pindah tak lagi di
perempatan desa dan menjadi serambi surau / masjid disertai doa dan mengaji
bersama. Masyarakat juga mempercayai hal tersebut sebgai tolak bala, maka pada
hari rabu pungkasan ini menurut para leluhur terdapat larangan-larangan seperti
dilarang bepergian jauh dan diarang memanjat pohon.
IV.
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Menurut KBBI sedekah bumi adalah selamatan yang diadakan sesudah panen (memotong padi) sebagai tanda
bersyukur. Sedangkan menurut tokoh masyarakat di desa sedekah bumi adalah
acara untuk mengucapakan syukur melimpahnya hasil panen di desa dan untuk
meminta perlindungan ke pada tuhan Yang Maha Esa dan juga meminta kesuburan
tanah dan garapan para petani, diadakan untuk keselamatan bumi atau tanah
karena semua yang ada didunia ini berpijak pada bumi atau tanah.
Sedekah bumi atau bersih desa
adalah suatu ritual budaya peninggalan
nenek moyang sejak ratusan tahun lalu. Dahulu pada masa Hindu ritual tersebut dinamakan
sesaji bumi / laut. Pada masa Islam, terutama masa Walisongo ritual budaya
sesaji bumi tersebut tidak dihilangkan, justru dipakai sebagai sarana untuk
mensyiarkan ajaran Allah. Ritual budaya sesaji bumi / laut yang dulunya untuk
alam diubah namanya menjadi sedekah bumi yang diberikan kepada manusia
khususnya anak yatim dan fakir miskin tanpa membedakan suku, agama, ras, atau
golongan.
Secara garis besar seluruh masyarakat sekitar
membuat tumpeng, berkumpul, dan membawa tumpeng tersebut di balai desa atau
tempat yang telah disepakati dan didoakan oleh sesepuh desa dan dimakan
secara ramai-ramai oleh masyarakat yang merayakannya.
Mengenai pelaksanaan, setiap daerah memiliki
nama dan waktu pelaksanaan sendiri, seperti di kabupaten Brebes ada dua nama
yaitu sedekah bumi dan sedekah laut yang diadakan setahun sekali di bulan
Muharram, di desa
Singorojo kecamatan Mayong Jepara, sedekah bumi dilaksanakan setahun sekali
pada bulan besar setelah hari raya idul adha. Masyarakat melaksanakannya dengan
selametan ( kenduren ) pada siang hari dan pada malam harinya mengadakan
pertunjukan wayang yang tidak jauh berbeda dengan desa Johorejo kecamatan Gemuh
Kendal, hanya saja masyarakat Johorejo mengadakan pengajian pada malam hari dan
diadakan setahunsekali di bulan Muharam (Sura).
Di kecamatan Parakan kabupaten Temanggung sedekah bumi
disebut juga nyusur tanah yang dilakukan dengan selamatan ingkung
( daging ayam utuh ), kegiatan ini disebut juga ngrasul. Kemudian di desa Tampingwinarno kecamatan
Sukorejo Kendal, masyarakat mengenalnya dengan istilah baritan atau nyaur
tanah,dilaksanakan pada malam satu sura
dan pada rabu pungkasan (hari rabu terakhir di bulan Muharram).
B. Kritik dan Saran
Demikianlah
makalah mengenai sedekah bumi yang dapat kami buat. Pemakalah menyadari dalam
pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Maka dari
itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendukung demi kesempurnaan
makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Amiiiiin.
[1] Karkono Kamajaya, Kebudayaan Jawa: Perpaduan dengan Islam,
(Yogyakarta: Ikatan Penerbit Indonesia, 1995), hlm 247.
[2] Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, ter.,
Aswab Mahasin, (Jakarta: Pustaka
Jaya, 1989), hlm 17.
[3] Niels Mulder, Kepribadian Jawa dan
Pembangunan Nasional, ( Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1981),
hlm 65.
DAFTAR PUSTAKA
Geertz, Clifford.
1989. Abangan, Santri, Priyayi dalam
Masyarakat Jawa, ter., Aswab Mahasin, Jakarta: Pustaka Jaya.
Kamajaya,
Karkono. 1995. Kebudayaan Jawa: Perpaduan dengan Islam. Yogyakarta:
Ikatan Penerbit Indonesia.
Koentjaraningrat,
1982. Sejarah Teori Antropologi I, Jakarta: UI Press.
Mulder, Niels. 1981. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Slamet DS, 1984. Upacara
Tradisional Dalam Kaitan Peristiwa Kepercayaan, Depdikbud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar